Sukron for Love
Langit tampak
mendung, sepertinya sore ini akan datang hujan, tak terasa sudah pukul 16.30
sore dan sudah dua jam kami belajar kelompok dirumah anggi bersama teman-teman
lainya, setelah selesai belajar bareng, alina dan reni mengajakku untuk pulang.
walaupun rumah kami tak jauh dengan rumah anggi ,tapi sudah waktunya untuk
pulang tak enak dengan orang tua dirumah jika kami kesoreaan.
“eh langitnya mendung tu ,kayaknya
bentar lagi hujan !”
ujar alina sambil melihat keatas langit dibelakang
halaman rumah anggi.
“iya nih” pulang yuk !
“ya udah ! nggi kita pulang dulu ya ,besok lagi kita lanjutin belajarnya ,!
“oh ya udah ! gak apa-apa kok, santai aja,!” Jawab anggi sambil tersenyum !
“aldi kamu bawa payung ,gak !” tanya Zahra
“iya nih” pulang yuk !
“ya udah ! nggi kita pulang dulu ya ,besok lagi kita lanjutin belajarnya ,!
“oh ya udah ! gak apa-apa kok, santai aja,!” Jawab anggi sambil tersenyum !
“aldi kamu bawa payung ,gak !” tanya Zahra
“duh ! gak bawa Ra!”
Jawab Aldi
“terus gemana ni kalau kena hujan bisa
basah kuyup ni !”
“udah ra gak papa, kan ada aldi yang selalu disampingmu !” celetus anggi
“ciye Zahra …..!” Sorak teman-temanku sambil memandangku
“apaan sih ! ngaco deh !” Zahra tersenyum malu
“ya udah ! kita pulang dulu ya !”,da anggi!
setelah itu kami segera berjalan pulang menuju rumah masing-masing, kebetulan Zahra dan reni searah jalan denganku. Sedangkan, yang lainya beda arah. dijalan aku hanya terdiam sambil melangkahkan kaki ku, tak terasa kami berjalan kami sudah sampai didepan rumah reni ,tiba-tiba hujan gerimis membasahi keningku
“aldi ! Zahra! ayo masuk dulu kerumah, bentar lagi hujan deres lo!”
“gemana ya ren ,udah sore ni ! celetusku saat berada didepan rumah reni”
“ya udah aku ambilin payung dulu kebelakang, kalian berdua tunggu disini sebentar ya !”
tak lama kemudian. hujan mulai lebat, reni datang membawa payung menghampiri aku dan Zahra
“di ! ni payungnya, sory ya ! cuman satu payungnya. udah gak jauh lagikan !” sambil memberikan payungnya kepadaku .
aku dan zahra melanjutkan perjalanan pulang ,dijalan aku hanya bisa tersenyum kecil, sesekali pandanganku mengarah ke zahra, entah kenapa hatiku selalu bergetar seperti rel kereta yang sedang dilewati enam puluh gerbong cinta. dia tampak terlihat manis ditambah dua lesung pipit yang tenggelam bagaikan lembah kecil yang berada diatas gurun pasir. entah kenapa aku tak bisa mengungkapkan isi hatiku padanya ,aku juga tak tahu apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan yang ada didalam hatiku.
“udah ra gak papa, kan ada aldi yang selalu disampingmu !” celetus anggi
“ciye Zahra …..!” Sorak teman-temanku sambil memandangku
“apaan sih ! ngaco deh !” Zahra tersenyum malu
“ya udah ! kita pulang dulu ya !”,da anggi!
setelah itu kami segera berjalan pulang menuju rumah masing-masing, kebetulan Zahra dan reni searah jalan denganku. Sedangkan, yang lainya beda arah. dijalan aku hanya terdiam sambil melangkahkan kaki ku, tak terasa kami berjalan kami sudah sampai didepan rumah reni ,tiba-tiba hujan gerimis membasahi keningku
“aldi ! Zahra! ayo masuk dulu kerumah, bentar lagi hujan deres lo!”
“gemana ya ren ,udah sore ni ! celetusku saat berada didepan rumah reni”
“ya udah aku ambilin payung dulu kebelakang, kalian berdua tunggu disini sebentar ya !”
tak lama kemudian. hujan mulai lebat, reni datang membawa payung menghampiri aku dan Zahra
“di ! ni payungnya, sory ya ! cuman satu payungnya. udah gak jauh lagikan !” sambil memberikan payungnya kepadaku .
aku dan zahra melanjutkan perjalanan pulang ,dijalan aku hanya bisa tersenyum kecil, sesekali pandanganku mengarah ke zahra, entah kenapa hatiku selalu bergetar seperti rel kereta yang sedang dilewati enam puluh gerbong cinta. dia tampak terlihat manis ditambah dua lesung pipit yang tenggelam bagaikan lembah kecil yang berada diatas gurun pasir. entah kenapa aku tak bisa mengungkapkan isi hatiku padanya ,aku juga tak tahu apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan yang ada didalam hatiku.
“Aldi ..! udah sampai ni, kok malah ngelamun !”
aku terkejut seketika Zahra menyapaku, tak terasa sudah sampai didepan rumah Zahra, hujan juga sudah mulai reda.
“di ! aku duluan ya, rumah kamu gak jauh lagi kan,! Makasi ya udah mau nganterin aku, makasi banyak !
“ya Ra ! sama-sama ! “
“aldi ! hati-hati ya !” tersenyum menatapku
hatiku kembali berdesir kencang, saat pandangannya lagi-lagi mengarah kearah ku . disepanjang jalan aku terus tersenyum ,lagi-lagi bayangannya selalu menghantuiku .
aku terkejut seketika Zahra menyapaku, tak terasa sudah sampai didepan rumah Zahra, hujan juga sudah mulai reda.
“di ! aku duluan ya, rumah kamu gak jauh lagi kan,! Makasi ya udah mau nganterin aku, makasi banyak !
“ya Ra ! sama-sama ! “
“aldi ! hati-hati ya !” tersenyum menatapku
hatiku kembali berdesir kencang, saat pandangannya lagi-lagi mengarah kearah ku . disepanjang jalan aku terus tersenyum ,lagi-lagi bayangannya selalu menghantuiku .
setelah sampai dirumah , segera
kurubuhkan tubuhku disofa.
“aldi !, gemana belajarnya nak ? ibu menghampiriku diruang tamu.
biasa kok bu ! lancar-lancar aja !
“aldi !, gemana belajarnya nak ? ibu menghampiriku diruang tamu.
biasa kok bu ! lancar-lancar aja !
********
Satu bulan berlalu ,
Tak lama lagi ujian
semester ganjil akan diadakan, banyak siswa yang mempersiapkan diri untuk
menghadapi ujian semester ganjil, begitu juga aku dan teman-temanku sudah
jauh-jauh hari kami mempersiapkan diri untuk ujian dengan belajar kelompok
dirumah.
kini hubunganku dengan
Zahra bukan lagi teman biasa melainkan
sahabat, aku tak menyangka bisa akrab cepat dengan Zahra, kami berdua
selalu berangkat dan pulang bersama
semenjak itu, tak heran banyak dari teman-teman disekolah menyangka kami berdua
pacaran. Begitu juga kedua orang tua kami sudah mengenal satu sama lain
hari ini, hari minggu, tak
ada semangat empat lima atau semangat proklamsi menghujaniku hari yang selalu
ditunggu-tunggu para pejuang, bukan para pejuang kemerdekaan ataupun proklamasi,
melainkan para pejuang bersenjata pulpen, berperisai buku dan berpeluru fikiran.
aku hanya duduk diam, dikursi
yang berada didepan rumah .
tiba-tiba handphonku
berbunyi,
thuuuut thuuuuut thuuuuut….
Aku segera mengambil
handphone yang kuletakan diatas meja ,dan mengangkat telephone
“Hallo “siapa ya !
“Aldi ..!, ini Zahra !
“Aldi ..!, ini Zahra !
Suara zahra sedikit tersendak-sendak,
aku tak mengerti apa yang dirasakan zahra
saat itu.
“Ada apa Ra ! kenapa nangis !”
“di ! aku pengen ketemu sama kamu sekarang! Kamu mau kan !”
“ ya…Ra! Dimana ?”
“Ditaman Depan gang, sekarang!”
“ya! Aku segera kesana !”
“ya udah! aku tunggu ya Di !”
“di ! aku pengen ketemu sama kamu sekarang! Kamu mau kan !”
“ ya…Ra! Dimana ?”
“Ditaman Depan gang, sekarang!”
“ya! Aku segera kesana !”
“ya udah! aku tunggu ya Di !”
Aku berpamitan dan
segera pergi keluar
rumah untuk menemui zahra ditaman depan gang. Hatiku terasa cemas saat mendengar
suara Zahra
ditelpone, aku takut sesuatu terjadi pada Zahra !. Kupacu kencang sepeda motor yang aku
kendarai.
Sesampai ditaman, dari jauh Nampak seorang
wanita duduk merenung diatas kursi dibawah pohon,aku yakin wanita itu adalah Zahra .segera kuhampiri
sosok wanita itu dan duduk disampingnya, ternyata benar sosok
wanita itu adalah Zahra, air mata mengalir membasahi pipinya.
“Zahra ! Zahra kenapa! kenapa Zahra nangis!” apa yang
terjadi Ra ?”
Zahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
kuberanikan diriku untuk menghapus air mata dipipinya, suaranya tersedu-sedu.
aku semakin khawatir melihatnya seperti itu, baru pertama kali ini dia menangis didepanku tak pernah kujumpai sebelumnya. mungkin karena hari-hari yang selama ini kami jalani hanya berisi canda tawa.
Zahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
kuberanikan diriku untuk menghapus air mata dipipinya, suaranya tersedu-sedu.
aku semakin khawatir melihatnya seperti itu, baru pertama kali ini dia menangis didepanku tak pernah kujumpai sebelumnya. mungkin karena hari-hari yang selama ini kami jalani hanya berisi canda tawa.
tiba-tiba kedua tanganku dipegang olehnya
"di ! maafin aku, besok pagi aku
harus pergi keluar kota zahra gak akan pernah kembali lagi di! dan tolong jaga
persahabatan kita, entah kapan esok hari pasti kita akan bertemu lagi.!
"Ada Apa
Ra!
kenapa kamu tiba-tiba pergi, apa yang terjadi Ra?"
"maafin aku di!"
"maafin aku di!"
Zahra pun melepas tangan ku dan menjauh, pergi
meninggalkan ku.
Hati ini terasa rapuh, tak ada kata yang mampu berucap sepilar atau dua
pilar kata, bayanganya seakan-akan terbang entah kemana sayap-sayap itu
membawanya. Kini hanya butiran debu yang terbang menyelimutiku. Bersama dedaunan kering
disekitar taman.
***********
Waktupun terus berjalan, tak terasa
kini aku menempuh pendidikan disalah satu universitas dijogjakarta. Jurusan
kedokteran, sebentar lagi pendidikan ku akan selesai. Menjadi seorang Dokter,
itulah cita-citaku sejak kecil. setelah semuanya tercapai aku ingin ada seorang
wanita yang berada disampingku. Menjadi kekasihku menjadi ibu dari anak-anakku
kelak.
Inilah hari yang
ditunggu-tunggu, hari dimana aku mendapatkan gelar dr.ALDI HERMAWAN. Para sanak-sanak
keluarga datang menghadiri wisudaku. Aku bersyukur dapat menggapai cita-citaku.
Ini berkat doa kedua orang tua ku dan sahabat-sahabatku.
Teringat raut wajah
sahabat yang aku cintai dulu. Entah mengapa bayangan itu mengahampiriku seakan
mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Wajahnya tampak berbinar-binar
menatapku. Hatiku bergetar. Seraya tersenyum. Dan berucap “tolong jangan
tinggalkan aku lagi, tetaplah disini bersamaku” sejenak lamunanku terusik
oleh adikku.
“Kak Aldi ayo foto !,
nanti mau nadia upload difacebook.”
“Gak ah gak mau. Nanti Cewek – cewek yang suka sama kak Aldi pada cemburu lagi, liat foto kak Aldi sama Nadia di facebook” Candaku
“Ihh....,Kakak” sahut Nadia dengan wajah cemberut.
“Gak ah gak mau. Nanti Cewek – cewek yang suka sama kak Aldi pada cemburu lagi, liat foto kak Aldi sama Nadia di facebook” Candaku
“Ihh....,Kakak” sahut Nadia dengan wajah cemberut.
********
Kini aku bekerja diRumah
sakit didaerah SOLO, tak terasa sudah hampir 6 bulan.aku bekerja diRumah sakit
SOLO. Hari-hariku dipenuhi oleh banyak pasien. Dari anak-anak hingga dewasa. Entah
kenapa nama dr.Aldi sangat terkenal di RS SOLO. Mungkin aku adalah dokter yang
satu-satunya belum menikah.
Jam menunjukan pukul
sembilan malam, kini jadwalku menggantikan Dokter Farhan. Beberapa menit
kemudian telpon diMeja berdering.
“Halo ! Dokter Aldi”
“Iya Sus!”
“ada seorang pasien yang baru datang. Kondisinya sangat keritis dok. Sekarang berada diruang UGD 4 Dok !
“ baik saya akan segera kesana sus”
“Iya Sus!”
“ada seorang pasien yang baru datang. Kondisinya sangat keritis dok. Sekarang berada diruang UGD 4 Dok !
“ baik saya akan segera kesana sus”
Segera kuambil Jas putih
dan Setetoskop yang berada dikursi.
jantungku terasa berdebar, sepertinya Pasien yang aku tangani saat ini menderita penyakit yang sangat parah dan belum pernah kutangani sebelumnya. Kucepatkan langkah kakiku.
jantungku terasa berdebar, sepertinya Pasien yang aku tangani saat ini menderita penyakit yang sangat parah dan belum pernah kutangani sebelumnya. Kucepatkan langkah kakiku.
“dokter-dokter! tolong
selamatkan kak Shafira, Dok !” seorang wanita memohon dihadapanku.
“tenang Mbak ! tenang ! saya akan berusaha semampu saya.”
“maaf mbak ! mbak tolong tunggu disini”
“tapi Sus!”
“tenang Mbak ! tenang ! saya akan berusaha semampu saya.”
“maaf mbak ! mbak tolong tunggu disini”
“tapi Sus!”
Kuhampiri pasien wanita
yang terbaring tak berdaya itu, raut wajahnya pucat. Kuambil perlatan yang
sudah disiapkan oleh suster. “suster tolong pasangkan Elektrokardiograf dan
Oksigen!” “baik dok”. Setelah beberapa menit menjalankan beberapa pemeriksaan medis. Wanita
itu sadar.
Aku segera keluar ruangan
UGD, “Dok...! bagaimana keadaan kakak saya”. “ kakak anda sudah sadarkan diri,
dan perlu saya tekankan “bahwa Pasien mengidap penyakit jantung” tiba-tiba air matanya mengalir
membasahi pipinya. “saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menanganinya”. “apapun
yang terbaik buat kakak saya, saya mohon sembuhkan kakak saya Dok”.
Keesokan harinya, kuhampiri
pasien wanita yang kutangani tadi malam kini keadaanya semakin keritis. “maaf
mbak pasien mau diperiksa dulu” tegur suster yang berada disampingku. Setelah
pemeriksaan selesai, raut wajah pucat itu menatapku. Seraya mengedipkan
matanya.
“A.....a.....,al....di
!” suara lirih itu memanggilku sambil melelehkan
air mata.
aku hanya terdiam menatapnya, hatiku kembali lirih mendengar suara itu, seperti suara yang menyapaku sembilan tahun silam.
aku hanya terdiam menatapnya, hatiku kembali lirih mendengar suara itu, seperti suara yang menyapaku sembilan tahun silam.
Sekejap tangannya meraih
dan memagang erat tanganku.
“A.......a ..., a.ku Za.h..ra...l Di..ii!”
linangan air mata keluar, mengalir dikedua pipiku. Kembali kupegang erat tangannnya. Kutatap wajah pucat itu. Wanita yang selalu aku rindukan. Seakan-akan tak percaya berada dihadapannya lagi. Kuhapus air mata diwajahnya.
“A.......a ..., a.ku Za.h..ra...l Di..ii!”
linangan air mata keluar, mengalir dikedua pipiku. Kembali kupegang erat tangannnya. Kutatap wajah pucat itu. Wanita yang selalu aku rindukan. Seakan-akan tak percaya berada dihadapannya lagi. Kuhapus air mata diwajahnya.
“Zahra...! apa yang
terjadi denganmu hingga seperti ini
wajah pucat itu hanya tersenyum menatapku.
“a..ku . se..nang bi.sa be..ber..temu la.gi Di!, ka.m.u telah me..ng..ga..pa..i ci..ta-ci.,.ta mu. Se.,perti ya..ng ka...kamu..ja..nji..kan du..lu ke..pa..da..ku!”
wajah pucat itu hanya tersenyum menatapku.
“a..ku . se..nang bi.sa be..ber..temu la.gi Di!, ka.m.u telah me..ng..ga..pa..i ci..ta-ci.,.ta mu. Se.,perti ya..ng ka...kamu..ja..nji..kan du..lu ke..pa..da..ku!”
Aku kembali membalas
senyumannya, “Zahra ..... tetaplah disini ! Aldi akan berusaha untuk menyembuhkan
Zahra”. Zahra menggelengkan
kepalanya.”ti..dak ..Di..! aaaku uuudd.ah gak mampu lagi di! "
“kamu gak boleh nyerah Ra, kamu harus kuat Ra, Kamu harus kuat!”
“ma..af kan Zahra di ! .,.ma..afkan Zahra.. , Za.h.ra. sa..yang.sama Aldi..!.za.h..ra sa..ngat..men..cin..ta.i Al..di..!
“Aldi juga sayang Zahra,!”
“kamu gak boleh nyerah Ra, kamu harus kuat Ra, Kamu harus kuat!”
“ma..af kan Zahra di ! .,.ma..afkan Zahra.. , Za.h.ra. sa..yang.sama Aldi..!.za.h..ra sa..ngat..men..cin..ta.i Al..di..!
“Aldi juga sayang Zahra,!”
Air mataku mengalir deras,
kupegang erat tangannya.
“di..., Za..hra mi...nta sesu..a..tu, To..lo..ng ja..ga.. a..di..k ku . , ..Ci..n..tai lah.. d.i..a se..pe.r..ti al..di me..nci.nta..i za..h.ra..”
“di..., Za..hra mi...nta sesu..a..tu, To..lo..ng ja..ga.. a..di..k ku . , ..Ci..n..tai lah.. d.i..a se..pe.r..ti al..di me..nci.nta..i za..h.ra..”
“Kak
Zahra..............!”
Seketika matanya
terpejam, duka pun mengalir deras,,.. tubuh ini terasa bebar-benar rapuh, hati
ini terasa lumpuh, berusaha kukuatkan hati, jiwa dan tubuh ini agar mampu berdiri
tegap. Sesekali terjatuh dan berusaha untuk berdiri kembali.
********
“Ayah.......! Ayah..........!” Si kecil Najwa ! menghampiri ku.Najwa Shafira Az Zahra. “Ini .. Foto Bibi ya!, namanya kok sama kayak adek. Bibi Cantik ya yah ! kayak Bunda” Aku hanya tersenyum mendengar buah hatiku. “iyah sayang!” Dinda menghampiriku, Wanita yang kini aku cintai. Inilah Takdir cintaku Sukron for Love “Bibi Cantik kayak Bunda”. Ucap Dinda Menatapku seraya tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar