Kamis, 06 November 2014

Cerpen (Sukron for Love) By One



Sukron for Love

Langit tampak mendung, sepertinya sore ini akan datang hujan, tak terasa sudah pukul 16.30 sore dan sudah dua jam kami belajar kelompok dirumah anggi bersama teman-teman lainya, setelah selesai belajar bareng, alina dan reni mengajakku untuk pulang. walaupun rumah kami tak jauh dengan rumah anggi ,tapi sudah waktunya untuk pulang tak enak dengan orang tua dirumah jika kami kesoreaan.

“eh langitnya mendung tu ,kayaknya bentar lagi hujan ! ujar  alina sambil melihat keatas langit dibelakang halaman rumah anggi.
“iya nih” pulang yuk ! 
ya udah !  nggi  kita pulang dulu ya ,besok lagi kita lanjutin  belajarnya ,!
“oh ya udah ! gak apa-apa kok, santai aja,!” Jawab anggi sambil tersenyum !
“aldi kamu bawa payung ,gak !”
tanya Zahra
duh ! gak bawa Ra!” Jawab Aldi
“terus gemana ni kalau kena hujan  bisa basah kuyup ni  !”  
“udah ra gak papa, kan ada aldi yang selalu disampingmu !”
celetus anggi
“ciye Zahra
…..!” Sorak teman-temanku sambil memandangku
“apaan sih ! ngaco deh !”
Zahra tersenyum malu
“ya udah ! kita pulang dulu ya !”,da anggi
!
setelah itu
kami segera berjalan pulang menuju rumah masing-masing, kebetulan Zahra dan reni searah jalan denganku. Sedangkan, yang lainya beda arah. dijalan aku hanya terdiam sambil melangkahkan kaki ku, tak terasa kami berjalan kami sudah sampai didepan rumah reni ,tiba-tiba hujan gerimis membasahi keningku
“aldi !
Zahra! ayo masuk dulu kerumah, bentar lagi hujan deres lo!”
“gemana  ya ren ,udah sore ni !
celetusku saat berada didepan rumah reni
“ya udah aku ambilin payung dulu kebelakang,
kalian berdua tunggu disini sebentar ya !”
tak lama kemudian. hujan mulai lebat,
reni datang membawa payung menghampiri aku dan Zahra
“di ! ni payungnya,
sory ya !  cuman satu payungnya. udah gak jauh lagikan !” sambil  memberikan payungnya kepadaku .
aku dan zahra melanjutkan  perjalanan pulang ,dijalan aku hanya bisa tersenyum kecil,
sesekali pandanganku  mengarah ke zahra, entah kenapa  hatiku selalu bergetar seperti rel kereta yang sedang dilewati enam puluh  gerbong cinta. dia tampak terlihat manis ditambah dua lesung pipit yang tenggelam bagaikan lembah kecil yang berada diatas gurun pasir. entah kenapa aku tak bisa mengungkapkan isi hatiku padanya ,aku juga tak tahu apakah dia  mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan  yang ada didalam hatiku.
Aldi ..! udah sampai ni, kok malah ngelamun !
 aku terkejut seketika Zahra menyapaku, tak terasa sudah sampai didepan rumah Zahra, hujan juga sudah mulai reda.
di ! aku duluan ya, rumah kamu gak jauh lagi kan,! Makasi ya udah mau nganterin aku, makasi banyak !
ya Ra ! sama-sama !
aldi ! hati-hati ya ! tersenyum menatapku
hatiku kembali berdesir kencang, saat pandangannya lagi-lagi mengarah kearah ku . disepanjang jalan aku terus tersenyum ,lagi-lagi bayangannya selalu menghantuiku .
setelah sampai dirumah , segera kurubuhkan  tubuhku disofa.
“aldi !,
gemana belajarnya nak ? ibu menghampiriku diruang tamu.
 biasa kok bu ! lancar-lancar aja !
********

Satu bulan berlalu ,
Tak lama lagi ujian semester ganjil akan diadakan, banyak siswa yang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester ganjil, begitu juga aku dan teman-temanku sudah jauh-jauh hari kami mempersiapkan diri untuk ujian dengan belajar kelompok dirumah.
kini hubunganku dengan Zahra bukan  lagi teman biasa melainkan sahabat, aku tak menyangka bisa akrab cepat dengan Zahra, kami berdua selalu  berangkat dan pulang bersama semenjak itu, tak heran banyak dari teman-teman disekolah menyangka kami berdua pacaran. Begitu juga kedua orang tua kami  sudah mengenal satu sama lain
hari ini, hari minggu, tak ada semangat empat lima atau semangat proklamsi menghujaniku hari yang selalu ditunggu-tunggu para pejuang, bukan para pejuang kemerdekaan ataupun proklamasi, melainkan para pejuang bersenjata pulpen, berperisai buku dan berpeluru fikiran.
aku hanya duduk diam, dikursi yang berada didepan rumah .
tiba-tiba handphonku berbunyi,
thuuuut thuuuuut thuuuuut….
Aku segera mengambil handphone yang kuletakan diatas meja ,dan mengangkat  telephone
“Hallo “siapa ya !
Aldi
..!, ini Zahra !
Suara zahra sedikit tersendak-sendak, aku tak mengerti apa yang dirasakan zahra saat itu.
“Ada apa Ra ! kenapa nangis !”
“di ! aku pengen ketemu sama kamu sekarang! Kamu mau kan !”
“ ya…
Ra! Dimana ?”
“Ditaman Depan gang, sekarang!”
“ya! Aku segera kesana !”
“ya udah! aku tunggu ya
Di !”
Aku berpamitan dan
segera pergi keluar rumah untuk menemui zahra ditaman depan gang. Hatiku terasa cemas saat mendengar suara Zahra ditelpone, aku takut sesuatu terjadi pada Zahra !. Kupacu kencang sepeda motor yang aku kendarai.
Sesampai ditaman, dari jauh Nampak seorang wanita duduk merenung diatas kursi dibawah pohon,aku yakin wanita itu adalah Zahra .segera kuhampiri sosok wanita itu dan duduk disampingnya, ternyata benar sosok wanita itu adalah Zahra, air mata mengalir membasahi pipinya.
Zahra ! Zahra kenapa! kenapa Zahra nangis!” apa yang terjadi Ra ?”
Zahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
kuberanikan diriku untuk menghapus air mata dipipinya, suaranya tersedu-sedu.
aku semakin khawatir melihatnya seperti itu, baru pertama kali ini dia menangis didepanku tak pernah kujumpai sebelumnya.
mungkin karena hari-hari yang selama ini kami jalani hanya berisi canda tawa.
tiba-tiba kedua tanganku dipegang olehnya
"di ! maafin aku, besok pagi aku harus pergi keluar kota zahra gak akan pernah kembali lagi di! dan tolong jaga persahabatan kita, entah kapan esok hari pasti kita akan bertemu lagi.!
"Ada Apa Ra! kenapa kamu tiba-tiba pergi, apa yang terjadi Ra?"
"maafin aku di!"
Zahra pun melepas tangan ku dan menjauh, pergi meninggalkan ku.
Hati ini terasa rapuh, tak ada kata yang mampu berucap sepilar atau dua pilar kata, bayanganya seakan-akan terbang entah kemana sayap-sayap itu membawanya. Kini hanya butiran debu yang terbang  menyelimutiku. Bersama dedaunan kering disekitar taman.
***********
 Waktupun terus berjalan, tak terasa kini aku menempuh pendidikan disalah satu universitas dijogjakarta. Jurusan kedokteran, sebentar lagi pendidikan ku akan selesai. Menjadi seorang Dokter, itulah cita-citaku sejak kecil. setelah semuanya tercapai aku ingin ada seorang wanita yang berada disampingku. Menjadi kekasihku menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
Inilah hari yang ditunggu-tunggu, hari dimana aku mendapatkan gelar dr.ALDI HERMAWAN. Para sanak-sanak keluarga datang menghadiri wisudaku. Aku bersyukur dapat menggapai cita-citaku. Ini berkat doa kedua orang tua ku dan sahabat-sahabatku.
Teringat raut wajah sahabat yang aku cintai dulu. Entah mengapa bayangan itu mengahampiriku seakan mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Wajahnya tampak berbinar-binar menatapku. Hatiku bergetar. Seraya tersenyum. Dan berucap “tolong jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah disini bersamaku” sejenak lamunanku terusik oleh adikku.
Kak Aldi ayo foto !, nanti mau nadia upload difacebook.”
“Gak ah gak mau. Nanti Cewek – cewek yang suka sama kak Aldi pada cemburu lagi, liat foto kak Aldi sama Nadia di facebook”
Candaku
“Ihh....,Kakak” sahut Nadia dengan wajah cemberut.
********
Kini aku bekerja diRumah sakit didaerah SOLO, tak terasa sudah hampir 6 bulan.aku bekerja diRumah sakit SOLO. Hari-hariku dipenuhi oleh banyak pasien. Dari anak-anak hingga dewasa. Entah kenapa nama dr.Aldi sangat terkenal di RS SOLO. Mungkin aku adalah dokter yang satu-satunya belum menikah.
Jam menunjukan pukul sembilan malam, kini jadwalku menggantikan Dokter Farhan. Beberapa menit kemudian telpon diMeja berdering.
“Halo ! Dokter Aldi”
“Iya Sus!”
“ada seorang pasien yang baru datang. Kondisinya sangat keritis dok. Sekarang berada diruang UGD 4 Dok !
“ baik saya akan segera kesana sus”
Segera kuambil Jas putih dan Setetoskop yang berada dikursi.
jantungku terasa berdebar, sepertinya Pasien yang aku tangani saat ini menderita penyakit yang sangat parah dan belum pernah kutangani sebelumnya. Kucepatkan langkah kakiku.
“dokter-dokter! tolong selamatkan kak Shafira, Dok !” seorang wanita memohon dihadapanku.
“tenang Mbak ! tenang ! saya akan berusaha semampu saya.”
“maaf mbak ! mbak tolong tunggu disini”
“tapi Sus!”
Kuhampiri pasien wanita yang terbaring tak berdaya itu, raut wajahnya pucat. Kuambil perlatan yang sudah disiapkan oleh suster. “suster tolong pasangkan Elektrokardiograf dan Oksigen!” “baik dok”. Setelah beberapa menit  menjalankan beberapa pemeriksaan medis. Wanita itu sadar.
Aku segera keluar ruangan UGD, “Dok...! bagaimana keadaan kakak saya”. “ kakak anda sudah sadarkan diri, dan perlu saya tekankan “bahwa Pasien mengidap penyakit  jantung” tiba-tiba air matanya mengalir membasahi pipinya. “saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menanganinya”. “apapun yang terbaik buat kakak saya, saya mohon sembuhkan kakak saya Dok”.
Keesokan harinya, kuhampiri pasien wanita yang kutangani tadi malam kini keadaanya semakin keritis. “maaf mbak pasien mau diperiksa dulu” tegur suster yang berada disampingku. Setelah pemeriksaan selesai, raut wajah pucat itu menatapku. Seraya mengedipkan matanya.
“A.....a.....,al....di !”  suara lirih itu memanggilku sambil melelehkan air mata.
aku hanya terdiam menatapnya, hatiku kembali lirih mendengar suara itu, seperti suara yang menyapaku sembilan tahun silam.
Sekejap tangannya meraih dan memagang erat tanganku.
“A.......a ..., a.ku Za.h..ra...l Di..ii!”
linangan air mata keluar, mengalir dikedua pipiku. Kembali kupegang erat tangannnya. Kutatap wajah pucat itu. Wanita yang selalu aku rindukan. Seakan-akan tak percaya berada dihadapannya lagi. Kuhapus air mata diwajahnya.
“Zahra...! apa yang terjadi denganmu hingga seperti ini   
 wajah pucat itu hanya tersenyum menatapku.
“a..ku . se..nang bi.sa be..ber..temu la.gi Di!, ka.m.u telah me..ng..ga..pa..i ci..ta-ci.,.ta mu. Se.,perti ya..ng ka...kamu..ja..nji..kan du..lu ke..pa..da..ku!”
Aku kembali membalas senyumannya, “Zahra ..... tetaplah disini ! Aldi akan berusaha untuk menyembuhkan Zahra”.  Zahra menggelengkan kepalanya.”ti..dak ..Di..! aaaku uuudd.ah gak mampu lagi di! "
“kamu gak boleh nyerah Ra, kamu harus kuat Ra, Kamu harus kuat!”
“ma..af kan Zahra di ! .,.ma..afkan Zahra.. , Za.h.ra. sa..yang.sama Aldi..!.za.h..ra sa..ngat..men..cin..ta.i Al..di..!
“Aldi juga sayang Zahra,!”
Air mataku mengalir deras, kupegang erat tangannya.
“di..., Za..hra mi...nta sesu..a..tu, To..lo..ng ja..ga.. a..di..k ku . , ..Ci..n..tai lah.. d.i..a se..pe.r..ti al..di me..nci.nta..i za..h.ra..”
“Kak Zahra..............!”
Seketika matanya terpejam, duka pun mengalir deras,,.. tubuh ini terasa bebar-benar rapuh, hati ini terasa lumpuh, berusaha kukuatkan hati, jiwa dan tubuh ini agar mampu berdiri tegap. Sesekali terjatuh dan berusaha untuk berdiri kembali.
********

“Ayah.......! Ayah..........!” Si kecil Najwa ! menghampiri ku.Najwa Shafira Az Zahra. “Ini .. Foto Bibi ya!, namanya kok sama kayak adek. Bibi Cantik ya yah ! kayak Bunda” Aku hanya tersenyum mendengar buah hatiku. “iyah sayang!” Dinda menghampiriku, Wanita yang kini aku cintai. Inilah Takdir cintaku Sukron for Love  “Bibi Cantik kayak Bunda”. Ucap Dinda Menatapku seraya tersenyum.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar